Rabu, 22 November 2017

9 Elemen Jurnalistik

1. Untuk Apa Jurnalisme Ada?
Di Amerika Serikat, jurnalisme telah direduksi menjadi tautology yang sederhana, yakni jurnalisme adalah apapun yang dikatakan wartawan tentang jurnalisme. Saat ini, teknologi telah menciptakan organisasi jurnalisme yang baru tempat norma-norma jurnalistik didefinisikan ulang, bahkan terkadang ditinggalkan. Banyak orang berpendapat bahwa definisi jurnalisme telah diledakkan oleh teknologi, sehingga saat ini apa saja terlihat sebagai jurnalisme.
Sebenarnya, tujuan jurnalisme tidak ditentukan oleh teknologi, oleh wartawan, atau oleh teknik yang dipakai, tapi prinsip dan tujuan jurnalisme ditentukan oleh fungsi yang dimainkan berita dalam kehidupan manusia. Tujuan utama jurnalisme adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa hidup merdeka dan mengatur diri sendiri.

Jurnalisme menciptakan suatu pemahaman bagaiman warga berperilaku, pemahaman yang disebut Teori Keterkaitan Publik. Maksudnya, media membantu manusia mendefinisikan komunitas manusia, menciptakan bahasa yang dipakai bersama, dan menemukan pengetahuan yang dipahami bersama. Jurnalisme juga membantu manusia untuk mengenali tujuan komunitas, mengenali pahlawan, dan mengenali penjahat. Sulit memisahkan konsep jurnalisme dengan konsep penciptaan komunitas dan penciptaan demokrasi. Jurnalisme menciptakan suatu pemahaman bagaiman warga berperilaku, pemahaman yang disebut Teori Keterkaitan Publik. Sekarang ancaman tidak hanya datang dari pemerintah tetapi juga dari teknologi. Teknologi membentuk suatu informasi baru yang memasukkan jurnalisme ke dalam kategori yang lebih luas. Jurnalisme independent jadi melakukan promosi yang berlebihan dan komunikasi komersial. Ada beberapa orang yang bersikeras bependapat bahwa mendefinisikan jurnalisme adalah tindakan berbahaya.
Mendefinisikannya, berarti membatasinya serta melanggar jiwa amandemen pertama, yakni mengenai kebebasan berbicara dan pers. Mendefinisikan jurnalisme hanya akan membuat tertahan terhadap perubahan waktu. Sebab, memungkinkan definisi tersebut tak tepat lagi.

Seharusnya, bukan hanya tujuan yang tidak berubah tapi bentuknya juga tetap. Walaupun wartawan tidak nyaman pekerjaannya didefinisikan, mereka sepakat bahwa tujuannya sama. Tujuannya yaitu menyampaikan kebenaran, sehingga orang-orang mendapatkan informasi untuk berdaulat. Kode etik dan pernyataan misi jurnalisme juga menyatakan tujuan yang sama yaitu untuk melayani kesejahteraan umum dengan memberi informasi kepada orang-orang.

Manusia membutuhkan berita karena memiliki naluri dasar, yaitu naluri kesadaran. Manusia perlu mengetahui apa yang terjadi untuk menyadari kejadian-kejadian di luar pengalaman mereka. Pengetahuan tentang sesuatu membuat manusia merasa aman, bisa merencanakan, dan mengatur hidup. Pertukaran informasi menjadi dasar untuk menciptakan komunitas dan membuat ikatan antarmanusia.

Sekarang ini, wartawan tidak lagi memutuskan apa yang seharusnya diketahui publik, tetapi justru membantu masyarakat mengerti secara runut apa yang seharusnya mereka ketahui. Wartawan harus memverifikasi apakah informasinya terpercaya, lalu dirunutkan agar warga bisa memahaminya secar efisien. Interaksi dengan khalayak menjadi suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dalam pelaporan berita.
Jenis interaksi menggunakan teknologi tinggi adalah jurnalisme yang menyerupai percakapan. Fungsi jurnalisme tidak berubah secara mendasar, meskipun telah memasuki era digital. Walaupun mungkin teknik yang digunakan berlainan, tapi prinsip-prinsip dasarnya tetap sama. Hal utama yang harus dilakukan wartawan adalah verifikasi. Lippmann, salah satu wartawan terkenal di Amerika, menyatakan bahwa demokrasi pada dasarnya adalah cacat. Namun, pendapat tersebut dibantah Dewey, menurutnya tujuan demokrasi bukan mengatur urusan publik secara efisien, tapi memungkinkan orang mengembangkan potensi sepenuhnya. Tujuan sejati demokrasi adalah kebebasan manusia.

Teori ini dicetuskan oleh Burgin. Yang tersirat dalam teori ini adalah tiap orang punya minat, bahkan menjadi pakar dalam suatu hal. minat yang berbeda dan kekuasaan masyarakat adalah kekuatan masyarakat. Tugas media berita adalah memberikan publik, apa yang mereka perlukan untuk menemukan kebenaran bagi diri mereka sendiri. Jadi, keterkaitan publik menyarankan, bahwa syarat-syarat pers lama, yakni melayani kepentingan komunitas terbesar yang dimungkinkan, tetap tidak tergoyahkan.

Munculnya konglomerasi dan pemikiran dibalik perlunya sinergi dalam perusahaan-perusahaan komunikasi memunculkan prospek lain. Amandemen pertama tidak menyatakan bahwa kepercayaan publik berada dalam genggaman komunitas yang lebih besar, justru amandemen ini menyatakan bahwa ada hak khusus bagi media untuk bebas dari aturan antitrust.

2. Kebenaran : Prinsip Pertama dan Paling Membingungkan
Elemen pertama dalam jurnalisme adalah “kewajiban pertama jurnalisme adalah kebenaran.” Semua orang setuju bahwa wartawan harus menyampaikan kebenaran. Namun orang berselisih paham tentang apa yang dimaksud dengan “kebenaran”. Keinginan agar informasi merupakan kebenaran adalah elementer. Berita adalah materi yang digunakan orang untuk mempelajari dan berpikir tentang dunia di luar diri mereka, maka kualitas terpenting berita adalah bisa digunakan dan diandalkan. Singkat kata, kebenaran menciptakan rasa aman yang tumbuh dari kesadaran seseorang, dan kebenaran inilah yang menjadi intisari sebuah berita. Wartawan-wartawan zaman dahulu-para pembawa pesan di masyarakat yang belum mengenal tulisan-juga diharapkan bisa bercerita ulang tentang suatu perkara secara akurat dan dapat diandalkan. Bahkan saat pers modern mulai terbentuk bersama lahirnya teori demokrasi, janji untuk berlaku jujur dan akurat, dengan cepat jadi bagian yang kuat dari pemasaran surat kabar yang paling awal. Pada awal abad ke-20 para wartawan mulai menyadari bahwa realisme dan realitas (akurasi dan kebenaran) tak bisa lagi dengan mudah dianggap sama.

Fungsi kebenaran adalah menerangi fakta-fakta tersembunyi, menghubungkannya satu sama lain, dan membuat suatu gambaran realitas yang dari sini orang bertindak kebenaran tampaknya terlalu rumit untuk dikejar. Atau bahkan kebenaran tidak ada, mengingat kita semua individu yang subjektif, ada beberapa argumen yang menarik, dan bahkan dalam jenjang filosofis tertentu mungkin valid. “Kebenaran jurnalistik” adalah lebih dari sekedar akurasi. Ini adalah pekerjaan sortir yang berkembang antara cerita pertama dan interaksinya di tengah publik, pembuat berita, dan wartawan sepanjang waktu. Prinsip pertama jurnalisme ini adalah yang paling membedaknnya dari semua bentuk komunikasi lain. Akurasi adalah fondasi bagi bangunan diatasnya : konteks, interpretasi, debat, dan semua kominkasi publik. Jika fondasinya keliru, yang lain-lainnya cacat. Sebuah debat antara pihak yang berlawanan dan penggunaan angka-angka yang keliru atau sepenuhnya berdasarkan prasangka, gagal untuk memberi kita informasi. Hal ini hanya membuat kita marah. Ini tak memajukan masyarakat.

Memahami kebenaran jurnalistik sebagai sebuah proses sebenarnya lebih membantu dan realistis,dan hal ini dimulai dari berita yang timbul pada hari pertama dan perkembangan selanjutnya.
Kita memahami kebenaran sebagai sebuah tujuan dan masih menyambut kebenaran ini. Karena inilah sebagaimana hidup sesungguhnya, sering harus berupaya keras dan tak pernah sepenuhnya mencapai yang diinginkan. Orang yang bekerja dalam dunia pemberitaan, atau bekerja dalam dunia birokrasi, mengatakan hal yang kurang lebih sama : bahwa memperoleh berita yang paling dekat dengan versi lengkap sebuah kebenaran yang sangat sulit sekali.

3. Untuk Apa Wartawan Bekerja?
Elemen jurnalisme yang pertama adalah “loyalitas pertama jurnalisme kepada warga.” Komitmen kepada warga lebih besar ketimbang egoisme profesional. Kesetiaan kepada warga ini adalah makna dari yang kita sebut independensi jurnalistik. Wartawan punya andil terhadap timbulnya kesulitan yang mereka hadapi sendiri dengan meneruskan kebingungan ini kepada publik, dan bisa dimengerti bila hasilnya membuat warga menjadi skeptis, bahkan marah.
Tentu saja, pemikiran bahwa wartawan melayani warga pada urutan teratas masih dipercaya oleh banyak wartawan. Dalam survei tentang nilai-nilai jurnalisme, lebih dari 80% responden menempatkan “kewajiban pertama adalah kepada pembaca/pendengar/pemirsa” sebagai “prinsip inti jurnalisme.

Dari Independen Ke Isolasi. Sama halnya dengan banyak pemikiran profesi lainya, independensi editorial dimulai sekian waktu yang lalu dalam perjalanannya mengeras. Saat wartawan berupaya menghormati dan melindungi indepedensi yang secara hati-hati didapatkanya dari tekanan partai dan kekuatan komersial, mereka terkadang masih harus mengejar independensi untuk kepentingan independensi itu sendiri. Ketidakberpihakan dari tekanan luar bisa mengakibatkan luka sedemikian rupa sehingga mereka meras terasing dari komunitas di mana mereka berada. Keterasingan ini terjadi sebagiannya karena jurnalisme menjadi makin profesional. Ketika wartawan jadi makin terdidik dan pers mengorganisasikan dirinya hingga membentuk konglomerat bisnis, perusahaan-perusahaan mulai memekai surat kabar san stasiun televisi bisnis mereka, yang bersaing dalam pasar kecil, sebagai tempat latihan wartawan untuk penugasan lanjutan di media yang lebih besar.

Faktor yang kedua adalah perkembangan isolasi ini adalah perubahan sifat pemberitaan. Beberapa wartawan menjadi prihatin karena terlalu banyak rekan mereka yang melampaui batas dari skeptisisme menuju sinisme, atau bahkan sejenis nihilisme jurnalistik, aliran filsafat yang percaya terhadap ketiadaan.

Phil Trounstein mengatakan, “tampaknya, hal terburuk yang bisa dituduhkan kepada reporter atau komentator dalam situasi tertentu bukanlah ketidakakuratan atau ketidakadilan melainkan sikapnya yang gampang percaya.” Faktor kunci dari problem tersebut, menurut profesor Joseph N. Cappella dan Kathleen Hall Jamieson adalah tumbuhnya jurnalisme yang berfokus pada motif pejabat publik, bukannya tindakan mereka. Dengan bergeser dari “apa” yang ada dalam kehidupan publik menuju “mengapa,” wartawan telah menyuguhkan “bagian dari tubuh” kehidupan publik, menghadirkan kondisi batin dan diri pada politisi, serta membuatnya kurang memperhatikan kebijakan publik.yang dikeluarkan si politisi yang sebenarnya justru lebih mempengaruhi warga. Akhirnya keterasingan jurnalistik yang menjalar ini terkait dengan strategi bisnis kebanyakan surat kabar, dan kemudian stasiun televisi, dalam meningkatkan keuntungan dengan cara memburu audiens yang paling berpengaruh atau paling efisien ketimbang yang paling banyak.
Sekalipun hanya sedikit yang menyadarinya, pada 1990-an sudah mulai apa yang dinilai sebagai pertimbangan ulang independensi redaksi. Sebab pertamanya, strategi bisnis yang membidik demografi tertentu mulai menyerang balik. Menghasilkan uang tanpa tiras yang bertambah bisa berjalan karena bisnis jurnalisme adalah sejenis monopoli yang membuatnya bisa menarik iklan begitu saja. Warga Bukanlah Pelanggan. Saat akuntabilitas bisnis dibawa ke redaksi, ikut serta pula bersamanya bahasa bisnis. Di beberapa perusahaan, hal ini bermakna membawa bahasa pemasaran konsumen pada ruang redaksi, dengan pembaca dan pemirsamenjadi “pelanggan,” mengerti apa yang dimaui mereka menjadi “pemasaran,” dan berita menjadi “layanan pelangan.” Banyak orang bicara soal adanya pagar api antara pihak redaksi dan bisnis di media.

Sayangnya, pengertian bahwa wartawan berada di balik pagar api agar bisa melayani warga dengan baik, sementara orang pemasaran bebas mencari keuntungan, adalah metafora yang salah arah. Pertama, ini mendorong terjadinya isolasi. Kedua, jika kedua belah pihak dalam sebuah organisasi media ini benar-benar berjalan ke arah yang berlawanan, jurnalisme cenderung menjadi pihak yang dirugikan.

Lima gagasan kunci muncul :
1. Pemilik/perusahaan harus menomorsatukan warga.
2. Pekerjaan manajer bisnis yang juga menomorsatukan warga.
3. Tetapkan dan komunikasikan standar yang bijak.
4. Kata akhir berita berada di tangan wartawan
5. Komunikasikan standar yang jelas kepada publik.

Apapun pendekatan yang diambil organisasi media, masalah loyalitas ini sangat penting, karena biasanya diabaikan atau disalahpahami.. meskipun begitu, alasan sesungguhnya mengapa hal itu begitu penting adalah pers telah menjadi sedemikian tidak populernya.

Wartawan suka menganggap diri mereka sebagai pengganti warga, meliput apa yang terjadi dalam kehidupan warga untuk kepentingan publik. Namun pubik semakin tak mempercayai mereka. Untuk menghubungkan kembali orang-orang dengan berita, dan meneruskan berita pada dunia yang leih luas, jurnalisme harus mengukuhkan kembali kesetiaanya kepada warga, kesetiaan yang telah dirusakkan industri berita karena kekeliruanya. Namun, akhirnya, hal ini pun tidak cukup. Kebenaran dan loyalitas kepada warga hanyalah dua lngkah pertama dalam membuat jurnalisme berjalan.

4. Jurnalisme Verifikasi
Eleman jurnalisme ketiga adalah “intisari jurnalisme adalah dispilin verifikasi.” Pada akhirnya, disiplin verifiksi adalah ihwal yang memisahkan jurnalisme dari hiburan, propaganda, fiksi, atau seni. Hanya jurnalisme yang sejak awal berfokus untuk menceritakan apa yang terjadi setepat-tepatnya.

Verifikasi selalu berada di dalam fungsi pokok jurnalisme. Seperti yang dikatakan Walter Lippmann, sebuah komunitas tak bisa merdeka bila kekurangan informasi, karena dengan informasi yang cukup kebohongan bisa dideteksi.”
Barangkali karena disiplin verifikasi sangat bersifat pribadi dan begitu sering secara serampangan dikomunikasikan, ia menjadi salah satu sebab kebingungan terbesar dalam jurnalisme: konsep objektivitas.

Pada akhir abad ke-19, konsep yang sering disebut-sebut wartawan adalah realisme, bukan obejktivitas. Realisme adalah pemikiran bahwa bila seorang reporter menggali fakta dan meruntutkannya secara kronologis, keenaran akan dengan sendirinya terungkap. Realisme mulai muncul ketika jurnalisme mulai terpisah dari partai-partai politik dan membuatnya kian akurat. Secara kebetulan munculnya realisme bersamaan dengan hadirnya sebuah inovasi yang disebut sebagai piramida terbalik.

Kini, budaya pers modern umumnya kian melemahkan metodologi verifikasi wartawan. Teknologi adalah sebagian besar penyebabnya. “Internet dan Nexis memberikan wartawan akses mudah kepada berita dan kutipan mereka perlu melakukan investigasi mereka sendiri,” ujar wartawan Geneva Overholser.

Saat wartawan menghabiskan waktu lebih banyak untuk mencari data dari internet atau bisnis data, resikonya adalah mereka bisa menjadi kian pasif, lebih menjadi penerima ketimbang pengumpul. Untuk melawan ini, pemahaman yang lebih baik tentang makna asli objektivitas bisa membantu menempatkan berita pada pijakan yang lebih kokoh.
Berat sebelah (fairness) dan keseimbangan (balance) bukanlah prinsip utama jurnalisme, dan sesungguhnya lebih merupakan alat yang membantu wartawan dalam mengembangkan dan melakukan verifikasi laporan mereka. Nilai dua hal ini adalah, dalam pertolonganya, membawa kita untuk lebih dekat pada verifikasi menyeluruh dan versi yang bisa diandalkan dari berbagi peristiwa.

Jangan menambahi benar-benar berarti jangan menambahhi hal-hal yang tidak terjadi. Hal ini lebih dalam artinya ketimbang “jangan mengarang” atau mengada-ada, karena hal ini juga meliputi mengatur ulang kejadian dalam satu waktu, satu tempat, karakter gabungan, atau gabungan peristiwa.

Jangan meipu berarti jangan pernah menyesatkan audiens. Membodohi orang adalah sebentuk kebohongan dengan menghina ide bahwa jurnalisme harus berpegang teguh pada kejujuran. Jika wartawan adalah pencari kebenaran, hal ini harus diikuti dengan mereka berlaku jujur dan saksama kepada audiens mereka juga, bahwa mereka menjadi penyaji kebenaran. Aturan transparasi, kami menganggap elemen tunggal paing penting dalam menciptakan disiplin verifikasi yang lebih baik. Transparasi juaga membantu mengukuhkan pemikiran bahwa motivasi wartawan untuk bekerja adalah demi kepentingan publik, yang sekaligus merupakan kunci kredibilitasnya. Sayangnya, transparasi sering dilanggar. Terlalu banyak jurnalisme gagal untuk menyebutkan apapun tentang metode, motivasi, dan sumbernya.

Aturan transparasi juga berkenaan dengan cara wartawan berurusan dengan sumber-sumber mereka. Sudah pasti wartawan tak boleh berbohong atau menyesatkan sumber-sumber mereka dalam proses mencari atau menyesatkan sumber-sumber mereka dalam proses mencari dan menyampaikan kebanaran pada publik lebih luas ketimbang menuntut transparasi dari jurnalisme, warga dan wartawan juga bisa mencari sesuatu yang lain dalam menghargai nilai laporan berita. Orisinalitas adalah nilai yang tertanam kuat dalam jurnalisme.
Daripada mempublikasikan laporan dari media lain, para wartawan condong untuk mengharuskan salah satu reporter mereka untuk menelepon sumber untuk mengonfirmasinya lebih dulu. Ini adalah cara untuk menelepon sumber untuk menghindari keharusan mencantumkan referensi pada organisasi berita yang lain. Dan hal ini mempunyai akibat penting lain. Kisah yang tak bisa dikonfirmasikan secara independen tak akan diulang.
Konsep kelima dan yang terakhir adalah wartawan harus rendah hati dengan keterampilan mereka. Dengan kata lain, mereka tak hanya harus skeptis terhadap apa yang mereka lihat dan mereka dengar dari orang lain, yang tak kalah penting mereka juga harus skeptis mengenai kemampuan mereka untuk mengetahui apa arti sesungguhnya dari sebuah peristiwa.

Bersama-sama, kelima pemikiran ini menjadi filosofi inti yang membingkai disiplin verifikasi. Mereka juga mengukuhkan hubungan yang lebih dekat dengan wartawan dan warga, yang saling menguntungkan.
Tempaknya konsep-konsep ini tidak cukup spesifik untuk menyusun “metode ilmiah” reportase. Setiap wartawan dapat membuat metode yang baik tentang pengumpulan dan penyajian berita dari sejumlah teknik berikut:
1. Penyuntingan yang skeptis.
2. Daftar pemeriksa akurasi.
3. Jangan berasumsi.
4. Pensil warna Tom French.
5. Sumber anonim.

Pada akhirnya, setiap orang dalam proses jurnalistik punya peranan dalam perjalanan menuju kebenaran. Penerbit dan pemilik harus bersedia secara konsisten mengumandangkan karya jurnalisme yang dilakukan demi kepentingan publik tanpa ketakutan atau keberpihakan.

5. Independensi dari Faksi
Elemen jurnalisme keempat yaitu “wartawan harus tetap independen dari pihak yang mereka liput.” Dalam beberapa hal, prinsip keempat ini lebih berakar dalam pragmatisme ketimbang teori. Independensi semangat bahkan menjangkau penulisan opini yang tidak ideologis. Komunikasi dan jurnalisme bukanlah istilah yang bisa saling dipertukarkan. Siapa saja bisa menjadi wartawan. Namun tidak semuanya sungguh-sungguh wartawan. Jika melaporkan sebuah peristiwa yang ia periksa dan tidak menyampaikan sebuah desas-desus, ia sedang melakukan jurnalisme.

Para fisluf Yunani Kuno paham bahwa manusia secara alami adalah makhluk politik dan membutuhkan semacam aktivitas politik. Pers menukar loyalitas partisan untuk sebuah tatanan baru. Editorial dan opini politik kini disusun secara terpisah dengan ruang dan label yang berbeda. Aturan-atiran kini telah diperkuat dimana reporter dan redaktur sering dilarang mengikuti aksi politik. Meski aturan independensi kian ketat pada tahun 1970-an hingga 1990-an, selalu ada saja yang menentang atau menghindarinya. Banyak orang yang mempermasalahkan konsep independensi semangat dan pikiran dalam jurnalisme. Mereka cemas bahwa independensi jurnalisme telah berkelana masuk ke dalam semacam penjara yang dipaksakan sendiri oleh si wartawan yang terpisah pada masyarakat umumnya.

Identitas jurnalisme yang kabur ini juga telah mencapai dimensi lain. Hal ini mengubah sikap yang menyangkut hubungan antara wartawan dan mereka yang diliput. Keterbukaan penting, sebagai warga kita berhak tahu apakah seorang reporter berperan aktif dalam masalah atau orang yang sedang dia liput. Namun setelah dilihat dari kecemasan para wartawan, disimpulkan bahwa keterbukaan kini tidak lagi memadai. Selain itu persoalan independensi tidak terbatas pada ideologi. Masalah ideologi bahkan lebih mudah ditangani daripada masalah lain.

Namun untuk memahami sepenuhnya peran wartawan, kita harus melihat jenis konflik dan ketergantungan lain. Saat wartawan lebih terlatih, berpendidikan lebih tinggi, maka muncullah komplikasi lain tentang independensi. Jurnalisme yang dihasilkan bersama dari orang-orang dengan beragam perspektif adalah lebih baik ketimbang yang dihasilkan oleh satu kelompok yang homogen. Berlanjut pada independensi dari ras, etnis, agama, dan gender. Berbagai media telah memeperbaiki gaya penulisan mereka untuk menyingkirkan bahasa rasialis. Namun, sampai saat ini industri surat kabar masih gagal memenuhi sasaran ini. Tersirat di dalamnya bahwa memang ada semacam perspektif yang khas kulit hitam atau perspektif yang khas asia. Sudah ada banyak bukti bahwa redaksi yang kurang beragam tak bisa menjalankan tuhas dengan baik.

Liputan mereka memiliki lubang-lubang. Rabun jauh definisi tradisional berita adalah bukti yang cukup bahwa perspektif personal mewarnai jurnalisme. Independensi dan faksi mengisyaratkan adanya jalan untuk menjadi wartawan yang tak terpengaruh pengalaman pribadi maupun menjadi tersandera olehnya. Jurnalisme meminta independensi dari faksi harus berada di atas semua budaya dan sejarah pribadi yang dibawa wartawan kedalam pekerjaannya. Tujuan tertinggi dari keberagaman redaksi adalah untuk menciptakan lingkungan yang intelek di mana semua orang memegang teguh ide independensi jurnalistik. Bersama-sama ide mereka dipadukan untuk menghasilkan reportase yang lebih kaya ketimbang yang bisa mereka hasilkan sendiri. Dan pada akhirnya mengantar publik sampai pada pandangan dunia yang lebih kaya dan utuh.

Penilaian yang baik dan komitmen abadi pada prinsip kesetiaan pertama pada wargalah yang membedakan wartawan dan partisan. Punya opini bukan saja boleh dan alamiah, tapi juga berharga bagi skeptisisme alamiah yang dimiliki setiap reporter yang bagus saat mendekati sebuah berita. Namun seorang wartawan harus cukup pintar dan cukup jujur untuk mengenali bahwa opini tersebut harus berdasarkan pada sesuatu yang lebih substansial.

6. Memantau Kekuasaan dan Menyambung Lidah yang Tertindas
Elemen jurnalisme kelima adalah “wartawan harus bertindak sebagai pemantau independen terhadap kekuasaan.” Prinsip ini sering disalahpahami dengan mengartikan sebagai “susahkan orang yang senang.” Upaya-upaya awal kerja investigatif ini menjadi salah satu alasan pers diberi kebebasan secara konstitusional. Dalam prosesnya mereka mengukuhkan reportase investigatif sebagi salah satu prinsip paling dini yang memisahkan jurnalisme dari cara komunikasi lain dengan publik. Prinsip anjing penjaga bermakna tak sekadar memanatu pemerintahan, tapi juga meluas hingga pada semua lembaga yang kuat di masyarakat. Wartawan pada saat ini terus melihat peran anjing penjaga sebagai peran utama pekerjaan mereka. Sayangnya pengertian pers hadir untuk “menyusahkan orang senang dan menyenangkan orang susah” membuat makna anjing penjaga disalahpahami sehingga memberikan citra liberal atau progresif. Seperti telah ditunjukkan sejarah kepada kita, ini lebih cepat diartikan mengawasi sejumlah kecil kekuatan didalam masyarakat atas nama orang banyak untuk mencegah terjadinya tirani. Secara logis tersirat pers harus mengenali kapan lembaga kekuasaan bekerja secara efektif, dan kapan tidak.

Saat praktik jurnalisme investigatif ada beberapa bentuk yang muncul. Yang pertama adalah reportase investigatif orisinal. Reportase ini melibatkan si reporter sendiri yang membuka dan mendokumentasikan kegiatan yang sebelumnya tak diketahui publik. Reportase ini sering berujung pada investigasi publik tentang subjek atau aktivitas yang dipaparkan, sebuah contoh klasik pers mendesak lembaga publik atas nama masyarakat. Dalam reportase investigatif orisinal modern, kekuatan analisis komputer sering menggantikan observasi personal reporter. Selanjutnya yang kedua adalah reportase investigatif interpretatif. Bentuk keduanya adalah reportase intrepretatif, yang sering melibatkan kegigihan yang sama dengan reportase orisinal. Investigasi orisinal membuka informasi yang belum dikumpulkan pihak lain untuk membari informasi pada punlik tentang peristiwa atau keadaan yang mungkin mempengaruhi hidup mereka. Masalah yang diungkap biasanaya lebih kompleks atau serangkaian fakta ketimbang pembeberan klasis biasa. Reportase ini menyingkap cara pandang baru sekaligus informasi baru tentang sebuah masalah. Yang ketiga, reportase mengenai investigasi. Kategori investigatif ketiga adalah reportase mengenai investigasi. Reportase ini perkembangan yang lebih baru dan lazim dilakukan. Dalam kasus ini, informasi dari sebuah investigasi resmi yang sudah dijalankan atau sedang disiapkan pihak lain, biasanya agen pemerintah.

Dalam pasang surut peran anjing penjaga selama dua abad terakhir, kita sampai pada momen melemahnya peran ini karena mencairnya bobot investigasi. Reportase investigasi banyak mempunyai ciri reportase anjing penjaga, tapi ada perbedaan disana. Kebanyakan program ini tak memantau elite yang kuat dan berjaga-jaga terhadap kemungkinan penyalah gunaan kekuasaan. Selanjutnya reportase investigatif sebagai penuntutan, reportase ini menarik publik untuk menilai pembeberan yang dilakukan. Disini wartawan harus berhati-hati dan punya cukup bukti untuk melakukannya, mengingat seringkali bahan bisa ditulis sabagai ekspose atau berita biasa. Ketika pertanyaan bermunculan tentang seorang pemeriksa medis ngera bagian yang gagal untuk menginvestigasi secara menyeluruh perilaku.

Saat abad ke 21 bergulir, revolusi di bidang teknologi dan organisasi ekonomi telah berkembang biak sehingga menciptakan kesempatan sekaligus ancaman bagi pers anjing penjaga yang independen. Komunikasi digital memungkinkan informasi berpindah lebih cepat dan lebih mudah, tetapi mereka juga menciptakan konglomerat komunikasi internasional yang merupakan tantangan bagi konsep negara-bangsa itu sensiri. Teori pers bebas muncul pada Abad Pencerahan kini dalam masalah. Anjing penjaga tidaklah seperti peran yang lain. Sekalipun elemennya serupa dengan jurnalisme yang lain, prinsip ini mensyaratkan keterampilan khusus, temperamen khusus, dan rasa lapar khusus. Prinsip ini juga memeperlihatkan komitmen serius dari narasumber. Hasrat untuk meliput masalah yang penting, dan sebuah pers yang independen dari kepentingan apapun keculai bagi konsumen berita. Kondisi jurnalisme pun terlah berkembang sebagai forum publik. Ini membiakkan gelombang baru jurnalisme omongan, yang membuat kebutuhan akan jurnalisme anjing penjaga yang bersemangat dan serius menjadi kian penting.

7. Jurnalisme Sebagai Forum Publik
Elemen jurnalisme keenam adalah “jurnalisme harus menghadirkan sebuah forum untuk kritik dan komentar publik.” Walaupun teknologi baru telah membuat forum menguat, dengan bertambahnya kecepatan dan gerakan, makin meningkat pula kekuatan untuk memutar balikan, menyesatkan, dan mengalahkan fungsi lain dari pers bebas.

Fungsi forum pers dapat menghasilkan demokrasi bahkan di negara besar serta beragam. Caranya, dengan mendorong sesuatu yang di nilai sebagai dasar bangunan demokrasi-kompromi, kompromi-kompromi. Oleh karena itu, jurnalisme harus menyediakan sebuah forum untuk kritik dan kompromi publik. Diskusi publik harus dibangun di atas prinsip-prinsip yang sama sebagaimana hal lain dalam jurnalisme kejujuran, fakta, dan verifikasi. Forum yang tak punya sikap hormat pada fakta akan gagal memberi informasi. Sebuah forum harus unutk komunitas seutuhnya, bukan hanya untuk kelompok yang berpengaruh atau yang secara demografis menarik. Forum publik tersebut harus menyertakan kesepakatan dalam banyak hal, yang diyakini oleh sebagian besar publik, dan sebagai jalan keluar dari masalah masyarakat.

Di dunia nyata, pasar komunikasi dan budaya politik, yang tercipta adalah ruang publik yang memberikan penghargaan sewajarnya terhadap fakta, keadilan, dan tanggung jawab. Surat kabar bukan hanya kendaraan bagi yang disebut berita, mereka adalah instrumen bersama keterkaitan sosial, yang dengannya warga-warga republik luas ini secara konstan berwacana dan berdebat satu sama lain soal masalah yang menjadi perhatian publik.

Ada perbedaan antara sebuah forum dan pertempuran untuk merebut makanan, atau antara jurnalisme yang menengahi debat dan jurnalisme semu yang memanggungkan debat artifisial untuk mengusik dan memprovokasi. Perbedaannya, yakni biaya yang murah untuk berbicara, forum media baru condong untuk menurunkan nilai sebuah kesepakatan, dan forum media baru tidak sungguh-sungguh memperluas cakupan diskusi publik.
Satu alasan forum media begitu besar adalah perusahaan media melihat silang pendapat sebagai sebuah jalan untuk berhubungan kembali dengan komunitas, pada saat hubungan ini melemah. Dengan kehadiran internet, kebutuhan akan pers bertanggung jawab makin meningkat, bukannya berkurang.

8. Menarik dan Relevan
Elemen jurnalisme ketujuh adalah “wartawan harus membuat hal yang penting menjadi menarik dan relevan.” Tugas wartawan adalah menemukan cara membuat hal-hal yang penting menjadi menarik unutk setiap cerita, dan menemukan campuran yang tepat dari yang serius dan kurang serius yang ada dalam laporan berita pada hari manapun. Jurnalisme adalah mendongeng dengan sebuah tujuan. Tujuannya adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan orang dalam memhami dunia. Tantangan pertama adalah menemukan informasi yang mereka butuhkan untuk menjalani hidup mereka. Kedua, membuatnya bermakna, relevan, dan enak disimak.

Tanggung jawab wartawan bukan sekedar menyediakan informasi, tapi menghadirkannya sedemikian rupasehingga orang tertarik untuk menyimak. Menulis berita dengan baik di luar bangunan piramida terbalik membutuhkan waktu. Yang perlu dilakukan adalah latihan strategis yang melibatkan lebih dari sekadar menjejalkan fakta ke dalam kalimat pemberitahuan pendek. Dan waktu adalah kemewahan yang dirasa kian kurang saja dipunyai wartawan saat ini.

Ciri penting dari jurnalisme infotainment adalah dengan satu dan lain jalan menyajikan berita sebagai sebuah rahasia. Repoter harus tahu rahasia ini dan membiarkan audiens ikut mengetahuinya juga. Berita yang hanya menyajikan hal-hal yang penting adalah sama kakunya dengan berita yang meninggalkan semua yang penting. Bukti memperlihatkan bahwa menarik audiens hanya dengan menyajikan tontonan yang enak dilihat akan gagal sebagai strategi bisnis jurnalisme jangka panjang. Dengan alasan, problem pertama adalah bahwa jika hanya menyuapi orang dengan masalah sepele dan hiburan, akan memudarkan selera dan pengharapan sejumlah orang terhadap sesuatu yang lain. problem jangka panjang kedua dengan strategi infotainment adalah hal ini menghancurkan otoritas organisasi berita untuk menyampaikan berita yang lebih serius dan menjauhkan audiens yang menginginkannya.
Beberapa pendekatan inovatif, akan menemukan ide-ide baru yang menarik. Diantaranya :
· Definisi baru dari siapa, apa, kapan, dimana, mengapa, dan bagaimana. Jika kita berpikir siapa karakternya, apa plotnya, dimana sebagai adegan, bagaimana sebagai narasi, dapat dengan mudah memadukan informasi dan dongeng.
· Bereksperimen dengan teknik penceritaan baru. Struktur narasi yang paling umum digunakan jurnalisme memang amat terbatas.
· Gelas jam. Sebuah bentuk dimana mulai dengan menyebutkan berita, menyebut apa yang terjadi, dan lantas ada sebuah jeda di piramida, dan baris yang memulai sebuah narasi.
· Masa depan bentuk tanya dan jawab. Bentuk ini memaksa wartawan untuk membingkai materi seputar masalah yang mungkin ditanya.
· Sok pintar. Ini adalah momen sebuah berita di surat kabar berkutat pada satu poin dan bukannya bergerak maju.
· Gambaran pikiran. Satu cara adalah membantu orang membangun gambaran di benak mereka sendiri ketimbang menggambarkannya untuk mereka.
· Menghubungkan berita pada tema yang lebih dalam.
· Karakter dan detail dalam berita. Karakter sebagai hal penting untuk menarik orang masuk ke dalam tulisan.
· Menemukan metafor atau struktur tersenbunyi dalam setiap berita.
· Narasi dalam melayani kebenaran.

9. Jadikan Berita Komprehensif dan Proporsional
Elemen jurnalisme kedelapan adalah “wartawan harus menjaga berita dalam proporsi dan menjadikanya komperhensif.” Jurnalisme adalah kartografi modern. Ia menghasilkan sebuah peta bagi warga untuk mengambil keputusan tentang kehidupan mereka sendiri. Itulah manfaat dan alasan ekonomi kehadiran jurnalisme.

Konsep kartografi ini membantu menjelaskan apa yang menjadi tanggung jawab dan liputan jurnalistik. Seperti halnya peta, nilai jurnalisme bergantung kepada kelengkapan dan proporsional. Wartawan yang menulis apa “ia yakin hal ini benar”, tanpa sungguh-sungguh mengecek terlebih dahulu, layaknya sama dengan seniman yang mengambil monster laut di ujung jauh dunia baru.

Mengumpamakan jurnalisme sebagai pembuatan peta membantu kita melihat bahwa proporsi dan komprehensivitas adalah kunci akurasi. Hal inin tak hanya berlaku pada berita. Sebuah halaman depan yang lucu dan menarik tapi tak mengandung apapun yang signifikan adalah sebuah pemutarbalikan. Sama halnya, berita yang hanya beriis hal serius dan penting, tanpa sesuatu yang ringan atau manusiawi, sama-sama tak seimbang.

Konsep pembuat peta juga membantu kita memahami lebih baik ide keberagaman dalam berita. Jika kita memikirkan jurnalisme sebagai kartografi sosial, peta tersebut harus meliputi berita dari semua komunitas kita, bukan hanya mereka dengan demografik yang atraktif.
Sayangnya, prinsip tersebut sulit dipertahankan. Sejak 25 tahun kehilangan audiens dan pengiklan beralih ke media televisi dan media lain, surat kabar memutuskan bahwa memang ada batas struktural sampai seberapa banyak tiras yang mereka bisa punya di masa video ini.

Akibatnya, suratkabar memutuskan ceruk mediumnya untuk golongan yang lebih terdidik. Alasan utama yang kedua adalah biaya. Dunia iklan memutuskan menggunakan surat kabar untuk memberikan iklan kepada kalangan atas,sedangkan untuk kalangan bawah lebih baik menggunakan media lain.

Sulit berbantahan dengan dalil ekonomi atau bahkan dengan beralihnya pembaca ke televisi, dengan ide bahwa-baha pembaca ini tak kembali. Melawan tren berarti harus mempercayai strategi jangka panjang yang tak disetujui oleh Wall Street dan pemikiran yang paling konvesional.

Delapan puluh tahun berikutnya industri jurnalisme, yang kini begitu terikat pada efisiensi ekonomi, tidak melakukan penanaman modal dan membangun hubungan yang sama dengan warga terbaru Amerika, seperti yang dilakukannya satu abad sebelumnya. Sebab ketika jurnalisme membuat target bagi dirinya pada demografik yang paling menguntungkan semata, ia juga tidak banyak melakukan penanaman modal dalam warga Amerika termuda. Berita-berita jadi panjang, canggih, sehinggas erring membutuhkan gelar kesarjanaan untuk mengikutinya.

Siaran berita dan suratkabar yang mengabaikan komunitas yang utuh juga menyebabkan problem bagi komunitas tersebut. Saat komunitas yang utuh ditinggalkan, muncul pula problem jurnalisme yang memberikan terlalu banyak detail pada grup demografik. Berita-berita menjadi panjang dan berlimpah ruah. Di televise, penargetan punya akibat yang serupa. Segmen kesehatan harian di televise local saat ini, misalnya, yang meliput semua peneliitan medis walaupun dalam tahap yang masih dini, cenderung lebih membingungkan warga tentang kesehatan daripada menambah informasi.Kesalahan ini mungkin bisa diperbaiki. Namun jurnalisme harus bertindak cepat untuk menemukan cara melayani komunitas yang beragam.

Pebandingan pembuatan peta juga memiliki keterbatasan. Kartografi adalah sesuatu yang ilmiah, sementara jurnalisme tidak. Proporsi dan komprehensivitas dalam berita subjektivitas sifatnya. Seorang warga dan wartawan mungkin berbeda pendapat dalam pilihan yang menurut mereka penting. Kuncinya adalah warga harus percaya terhadap berita yang dipilih oleh wartawan tidak eksploitatif dan tidak mengumbar sensasi. Namun orang kurang peduli apakah wartawan melakukan kesalahan. Orang tak mengharapkan kesempurnaan. Namun hanya mengharapkan niat baik.

Pada momen ketika budaya media berita mengalami perubahan yang cepat dan disorientasi, tampaknya ada tekanan untuk melebih-lebihkan dan membuat sensasi. Sebenarnya inilah pilihan yang ada di depan media berita saat teknologi memperbanyak jumlah media dan tiap organisasi melihat audiensnya menyusut. Pemikiran bahwa berita menjadi sebuah komoditas yang kelebihan pasokan adalah salah satu penyebabnya. Siaran berita malam juga bergeser dengan berkurangnya laporan tentang kinerja lembaga-lembaga pemerintahan dan laopran tentang kinerja lembaga-lembaga pemerintah dan bertambahnya berita-berita hiburan dan selebritas.
Banyak pemikiran tentang pasar sekarang. Riset pasar yang btradisional meminta konsumen memilih alternative yang sudah bisa diperkirakan. Orang-orang condong memilih spectrum dari plihan yang terbatas. “ Jadi mereka tidak mengatakan kepada Anda apa yang mereka sukai. Mereka condong bereaksi terhadap pilihan Anda yang terbatas dan memberi Anda urut-urutannya.”

Di balik keterbatasan struktural riset pasar yang tradisional ini. Para periset mengatakan audiens mungkin tak tahu persis mengapa mereka menyukai satu jurnalisme dibandingkan yang lainnya. Jadi riset pasar macam apa yang berharga? Wartawan, warga, dan periset bersama-sama menawarkan jawaban ini: riset yang membantu wartawan membuat penilaian, bukan riset yang menggantikan penilaian mereka. Dengan kata lain, kita perlu berhenti menggunakan riset pasar yang memperlakukan audiens sebagai konsumen, bertanya kepada mereka produk apa yang mereka suka.
Banyak wartawan yang menolak riset pasar. Ironisnya, wartawan punya lebih banyak ketrampilan yang dibutuhkan untuk melakukan jenis riset pengamatan tentang kehidupan orang yang mungkin paling coock untuk jurnalisme. Meskipun begitu, wartawan tak mengembangkan tradisi apapun untuk melakukan hal ini. Mencoba pun mereka tidak.
Jika jurnalisme telah kehilangan jalannya, sebagian besar alasannya adalah ia sudah kehilangan makna dalam kehidupan orang, bukan hanya audiens tradisionalnya tapi juga generasi berikutnya.seperti halnya peta kuno yang menyisakan sebagian besar dunia sebagai daerah tak dikenal, audiens dewasa ini menghadapi jurnalisme dengan ruang kosong serupa di tempat grup demografik yang tak menarik atau topik yang terlalu sulit untuk dikejar. Dengan semua hal ini, masih ada satu elemen lagi yang mengikat semuanya menjadi satu. Hal ini berkaitan dengan apa yang terjadi di redaksi itu sendiri.

10. Wartawan Punya Tanggung Jawab pada Nurani
Elemen jurnalisme kesembilan adalah “wartawan punya kewajiban terhadap nurani.” Jurnalisme adalah masalah karakter. Mengingat tak ada hukum dalam jurnalisme, tak ada pertaturan, tak ada surat izin, dan tak ada perarutran yang resmi. Mengingat jurnalisme bisa eksploitatif, beban berat terletak pada etika dan penilaian dari wartawan dan organisasi secara individu tempat wartawan bekerja. Hal ini merupakan tantangan berat pada setiap profesi. Namun bagi jurnalisme ada imbuhan ketegangan antara peran pelayanan publik yangdijalankan wartawan dan fungsi bisnis yang membiayai pekerjaan ini. Yang makin membuat rumit keadaan, bahkan di masa internet ini sebagian wartawan masih bergabung dalam lembaga yang dikuasai sejumlah kecil orang karena terjadinya penggabungan besar-besaran organisasi berita yang komprehensif. Selama hanya ada satu suratkabar dan hanya tiga atau empat stasiun televisi yang mengerjakan berita di sebagian besar kota, kita tidak bisa semata-mata mengandalkan pasar untuk melindungi etika jurnalisme.

Kita sadar atau tidak pada pentingnya karakterisistik ini, pada hakekatnya apa yang kita pilih saat menyeleksi sebuah majalah, program televisi, atau lainnya adalah otoritas, kejujuran, dan penilaian dari wartawan yang membuatnya. Konsekuensinya, ada sebuah prinsip terakhir yang harus benar-benar dipahami wartawan tentang pekerjaan mereka dan yang kita sebagai warga rasakan ketika memilih media. Ini adalah prinsip yang paling buruk, tapi inilah yang menyatukan semuanya.

Setiap wartawan harus mempunyai rasa etika dan tanggung jawab personal. Terlebih lagi, mereka punya tanggung jawab untuk menyuarakan sekuat-kuatnya nurani mereka dan membiarkan yang lain melakukan hal yang serupa.halangan yang tak terhitung banyaknya menyulitkan memproduksi berita yang akurat, adil, imbang, berfokus pada warga, independent, dan berani. Namun upaya ini padam dengan sendirinya tanpa ada atmosfer terbuka yang memungkinkan orang untuk menentang asumsi, persepsi, dan prasangka orang lain. Hanya di sebuah ruang redaksi di mana semua orang bisa membawa pandangan mereka yang beragam yang mampu menghasilkan berita yang punya kesempatan untuk mengantisipasi secara akurat dan mencerminkan kian beragamnya perspektif dan kebutuhan Amerika.

Gampangnya, mereka yang bekerja di organisasi berita harus mengakui adanya kewajiban pribadi untuk bersikap beda atau menentang redaktur, pemilik, pengiklan, dan bahkan warga dan otoritas mapan jika kejujuran akurasi mengharuskan mereka berbuat seperti itu.

Menyertakan kebutuhan ini ke dalam proses pembuatan jurnalisme menghasilkan ketegangan yang lain. Mengingat sifat keterdesakannya, ruang redaksi tidaklah demokratis. Ruang redaksi bahkan condong menjadi kediktatoran yang teratur. Seseorang yang berada di rantai komando teratas harus membuat keputusan akhir. Jika tidak begitu, media massa tidak bisa memenuhi tenggat waktunya. Sebagai tambahan ada kecendrungan di redaksi modern untuk menciptakan budaya korporasi tunggal saat bagian bisnis dan berita kian banyak bekerja dalam format tim. Namun sebuah budaya tunggal redaksi berlawanan dengan prinsip nurani yang darinya mengalir nilai-nilai lain seperti akurasi, komitmen, dan keberadaan intelektualitas yang dibutuhkan untuk meliput komunitas-komunitas kita.

Bagi banyak wartawan dimensi moral ini sangat besar karena hal inilah yang menarik mereka banyak menekuni profesi ini pada mulanya. Ketika mereka pertama kali berminat pada berita, sering kali pada masa muda banyak yang tertarik ke profesi ini karena elemennya yang paling mendasar.

Wartawan-wartawan inin sangat peduli dengan dimensi moral profesi mereka karena tanpanya mereka akan kebingungan dalam menentukan wilayah abu-abu keputusan etis. Seperti yang dikatakan Carol martin kepada kami. “ Tak ada hukum tentang berita………akhirnya terserah kompas pemandu Anda yang akan menentukan apa yang Anda lakukan dan apa yang tidak”.

Persolan karakter yang dihadapi wartawan bukanlah hal yang asing bagi kita saat kita mengonsumsi berita, dan kita mencari karakter ini dalam pengambilan keputusan tentang siapa yang omongannya benar dan bisa dipercaya.
Keberagaman intelektual adalah tujuan sesungguhnya. Ihwal dialog terbuka di redaksi ini berada di inti pemikiran orang-orang yang kian bertambah jumlahnya tentang beritann yang memperhatikan elemen penting dalam persoalan keberagaman dan pengejaran jurnalisme proporsional.

Secara tradisi, konsep keberagaman ruang redaksi umumnya didefinisikan dalam pengertian jumlah sasaran yang berkaitan dengan etnik, ras, dan gender. Industri berita terlambat mengenai bahwa ruang redaksi mereka harus lebih mencerminkan budaya secara umum. Sekalipun semikian, dilihat dalam konteks yang lebih luas dari nurani pribadi, definisi knvesional keberagaman ini, walau memang penting, sifatnya terbatas. Hal ini beriisko membuat bingung antara cara dan tujuan. Namun tak sesuatu pun yang bisa dicapai dengan kuota ini jika budaya ruang redaksi mensyaratkan bahwa orang-orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda ini semuanya harus bersatu dalam mentalitas tunggal.

Tujuan keberagaman seharusnya tak hanya membentuk ruang redaksi yang mirip keragaman masyarakat, tapi juga ruang redaksi yang terbuka dan jujur sehingga keberagaman ini bisa berfungsi. Ada beberapa faktor pemicu yang menjadikan ruang redaksi homogen. Salah satunya adalah sifat mausia. Lalu problem lainnya adalah kelemahan birokrasi yang melekat dalam setiap organisasi. Mungkin tantangan terbesar bagi orang yang bisa memproduksi berita adalah mengenali bahwa kesehatan jangka panjang mereka tergantung pada redaksi mereka, bukan pada efisiensi semata. Kualitas seorang pemilik, seorang redaktur, atau manajer mana saja pada umumnya ditentukan oleh tingkatan yang mereka tangani selama jangka waktu tersebut.

Peran warga masyarakat. Elemen terakhir ini juga terletak sebanding pada bagaimana anggota komunitas, warga, menjadi bagian dari proses tersebut. Jika orang ingin jurnalisme yang lebih baik, kata mereka, pasar harus tersedia. Pasar tidaklah, seperti yang sering dikatakan, menyediakan berita yang diinginkan semata. Mereka juga menyediakan berita tentang Wall street, pemilik, pelatihan jurnalisme, dan konvensi. Jika ini akan diubah dan jika prinsip kesetiaan pertama wartawan tertuju kepada warga punya makna, sebuah hubungan baru antara warga dan wartawan harus berkembang. Mereka harus merelakan diri untuk membuat diri dan karya mereka transparan. Sebenarnya, dengan pendekatan semacam ini menjadi awal hubungan antara wartawan dan kita punya hak untuk berharap bahwa bukti integritas reportase bisa terlihat jelas. Ini berarti bahwa proses verivikasi, bagaimana orang berita membuat keputusan mereka dan mengapa harus transparan.

Nama           : Irene Wantania
NIM               : 2016-41-047
Mata Kuliah : Komunikasi Massa